Eceng gondok

Nadia prita invanza 
G2D023066
Teknologi pangan


                          ECENG GONDOK 
Domain:
Kerajaan:
Upakerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
P. crassipes
Nama binomial
Pontederia crassipe
Eceng gondok,(nama latin: Pontederia crassipes, sinonim: Eichornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe. Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya

=>DESKRIPSI 
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4–0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.
=>HABITAT
Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan perubahan yang ekstrem dari ketinggian air, arus air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur, dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat, dan potasium (Laporan FAO). Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau. 
=>DAMPAK NEGATIF
  • Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat.
  • Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens).
  • Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.
  • Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
  • Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.
  • Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.
=>PENANGGULANGAN 
*Menggunakan herbisida
*Mengangkat eceng gondok tersebut secara langsung dari lingkungan perairan
*Menggunakan predator (hewan sebagai pemakan eceng gondok), salah satunya adalah dengan menggunakan ikan grass carp (Ctenopharyngodon idella) atau ikan koan. Ikan grass carp memakan akar eceng gondok, sehingga keseimbangan gulma di permukaan air hilang, daunnya menyentuh permukaan air sehingga terjadi dekomposisi dan kemudian dimakan ikan. Cara ini pernah dilakukan di danau Kerinci dan berhasil mengatasi eceng gondok di danau tersebut
*Memanfaatkan eceng gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, kompos, biogas,perabotan,kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dsb.
=>Mortofologi 
Morfologi Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) 
Eceng gondok merupakan tanaman air yang hidup bebas di permukaan air, 
dapat berkembang dengan cepat dan dapat tumbuh sepanjang tahun. Eceng gondok 
memiliki tinggi 0,4-0,8 m, batangnya berbuka pendek mempunyai diameter 1-2,5 cm 
dan memiliki panjang batang mencapai 30 cm. Eceng gondok memiliki daun bergaris 
tengah mencapai 1,5 cm dengan bentuk lentur agak bulat, berwarna hijau terang dan 
berkilau jika berada dibawah sinar matahari. Kelopak dari bunganya berwarna ungu 
muda. Setiap bunga memiliki kepala putik yang dapat menghasilkan 500 bakal biji 
setiap tangkai (Sumarjono, 2009). 
Kecepatan dari pertumbuhan eceng gondok tergantung dari berbagai faktor 
lingkungannya seperti kandungan hara perairan, kedalaman air, salinitas, pH, dan 
intensitas cahaya. Suhu air yang paling cocok untuk pertumbuhan eceng gondok 
mencapai 28-30oC dan pH 7.
Sumber:https://id.m.wikipedia.org/wiki/Eceng_gondok

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zat gizi dan bioaktif ikan salmon